Tuesday, September 27, 2016

Learn about Filmmaking = Learn about Humility

Today, i was assigned to be a film workshop assistant. It is the same workshop which i attended 3 years ago as student. Perhaps 3 years is indeed a long time. But instead of being depressed about it, i was somewhat happy. Because instead of stagnating, i can proudly say that i am growing. A tangible grow that i can measure. 

Because to be honest, choosing to be a filmmaker is a constant battle against yourself. So many new potential will outgrow you exponentially at any time. My confidence was constantly crushed after watching hordes of good films. Because apparently, everyone can make a good film and i am not the special snowflake that i thought i was.

A moment of reflection, 3 years ago i started literally as zero, and even worse. I am that kind of despicable person who think that he can do anything. That kind of me will never imagine what he'll turn out to be 3 years later. A speck of dust in galaxy.

Well, for what its worth, my progress might be slow. But i think that it was the first time in my life that i can really relax and enjoy the ride a little bit. Filmmaking really are teaching me how to be humble.


Wednesday, May 18, 2016

Kritik Sosial Terhadap Tayangan Pernikahan Raffi Ahmad & Nagita Slavina

Pernikahan adalah pengikatan janji nikah yang dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan dalam berbagai dimensi norma, yakni norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Pernikahan memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu membentuk suatu keluarga yang bahagia, kekal abadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan rumusan yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 pasal 1 bahwa: "Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang wanita dengan seorang pria sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa." Sesuai dengan rumusan itu, pernikahan tidak cukup dengan ikatan lahir atau batin saja tetapi harus kedua-duanya. 

Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Sedangkan upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Agama Islam menggunakan tradisi perkawinan yang sederhana, dengan tujuan agar seseorang tidak terjebak atau terjerumus ke dalam perzinaan. Tata cara yang sederhana itu nampaknya sejalan dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 yang berbunyi: "Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya." Dalam Islam, perkawinan sudah sah apabila telah memenuhi rukun dan syarat perkawinan, di antaranya: adanya pihak - pihak yang melaksanakan akad nikah yaitu mempelai pria dan wanita, adanya akad yaitu perkataan dari pihak wali perempuan atau wakilnya (ijab) dan diterima oleh pihak laki-laki atau wakilnya (kabul), adanya wali dari calon istri, dan adanya dua orang saksi. 

Akan tetapi, upacara pernikahan nyatanya tidak sebatas soalan agama. Di dalamnya ada banyak ragam dan variasi tradisi suku bangsa, budaya, maupun kelas sosial. Peristiwa paling aktual yang paling pas untuk menggambarkan fenomena ini adalah upacara pernikahan dua artis muda Indonesia, Raffi Faridz Ahmad dan Nagita Slavina Mariana Tengker, yang berlangsung pada 17-19 Oktober 2014. 

Biaya resepsi pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina mencapai angka Rp10,3 miliar dengan tamu undangan sebanyak 9.000 orang. Bukan hanya itu, upacara pernikahan ini dipinang oleh dua televisi swasta nasional yang menjadi sponsor dan menyiarkan rangkaian pernikahan dan pesta perkawinannya, yakni TRANS TV dan RCTI. Tak tanggung-tanggung, prosesi ijab kabul Raffi dan Nagita di Hotel Ritz Calton Jakarta, 17 Oktober 2014 disiarkan oleh Trans TV selama 24 jam, termasuk kilas balik pada prosesi siraman, midodaremi dan rangkaian prosesi adat Jawa menjelang akad nikah. Seperti pernikahan artis-artis papan atas lainnya yang diumumkan secara luas, pernikahan dua sejoli ini juga menghadirkan para pesohor tanah air sebagai saksi, yakni Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Walikota Bandung Ridwan Kamil.

Selanjutnya, stasiun televisi yang berbeda, yakni RCTI menayangkan secara eksklusif dan live pesta pernikahan Raffi - Nagita yang berlangsung di Ritz Calton pada 19 Oktober 2014. Pesta ini masih mengusung konsep adat Jawa. Dengan desain elegan, suasana terkesan semakin mewah. Pesta yang diperkirakan dihadiri sekitar 9.000 tamu tersebut sangat sesak,  sehingga untuk berjabat tangan dengan kedua mempelai harus antri dan berdesak-desakan di jalur antri. Di antara desak-desakan tamu undangan, artis papan atas yang hadir mengenakan kebaya dari desainer-desainer ternama tanah air tampak mencolok. Mereka tampil glamour, telah memberi warna tersendiri dalam pesta mewah yang diperkirakan menelan biaya hingga Rp10 miliar tersebut. 

Setelah pesta pernikahan menggunakan adat Jawa tadi malam, selanjutnya pasangan ini juga akan menggelar Private Party di Tabanan, Bali. Kabarnya, pesta yang akan dilangsungkan di Alila Villa Soori, Tabanan, Bali itu juga disponsori sejumlah pihak, termasuk dari Villa Soori sendiri, dan akan diliput juga oleh stasiun televisi RCTI. Pesta tersebut menyewa langsung satu hotel itu, dan akan dihadiri oleh kerabat dan teman dekat pasangan ini. Kehadiran para tamu dikabarkan dibiayai oleh Raffi, mulai dari transportasi, hingga ke salon kecantikan. 

Uniknya, kehebohan upacara pernikahan Raffi dan Nagita bahkan mengalahkan gaung pelantikan Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang berselang 1 hari setelahnya, yakni pada hari Senin, 20 Oktober 2014. Biaya resepsi pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya pelantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) yang hanya menghabiskan dana sekitar Rp1 miliar dan dihadiri kurang lebih 1000 orang. 

Dua momentum yang berbeda, disiarkan secara live oleh statiun TV yang berbeda. Pernikahan Raffi dan Nagita disiarkan live oleh RCTI dan TRANS TV, sedangkan upacara pelantikan Jokowi-JK akan disiarkan live oleh METRO TV  dan beberapa TV swasta lainnya. Hal ini memiliki kesan bahwa pernikahan Raffi lebih istimewa dan lebih berharga dibandingkan pelantikan Jokowi. Sementara kita tahu bahwa, momentum pelantikan Jokowi merupakan momentum sejarah bagi Indonesia bahwa lima tahun kedepan bangsa Indonesia akan memiliki pemimpin baru. 

Acara pernikahan Raffi - Nagita, hanya membawa manfaat bagi Raffi, keluarga, stasiun TV dan para penggemarnya. Siaran langsung tentu membuat Raffi bisa mengeruk keuntungan dari sponsor demi menutup biaya pernikahannya. Sedangkan pelantikan Jokowi - JK menggunakan biaya negara, dimana acara Syukuran Rakyat yang diselenggarakan secara terpisah di Monas diselenggarakan oleh para relawan secara sukarela dan artis yang rela tampil gratis. 

Maka, penyiaran prosesi pernikahan ini sontak menuai kontroversi. Seringkali berupa cibiran dari masyarakat, khususnya di sosial media Twitter. Sejak siaran langsung proses pernikahan ditayangkan perdana di TRANS TV, Raffi sukses menjadi salah satu trending topic di Indonesia. Siaran upacara pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang berlangsung selama belasan jam dalam sehari dianggap merupakan pelecehan publik. Stasiun televisi TRANS TV dianggap menyalahgunakan kuasanya dalam mengelola frekuensi publik. Penyiaran ini dianggap menyeleweng dari Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) yang mana pada mukadimahnya menyebutkan, “Pemanfaatan frekuensi radio sebagai ranah publik yang merupakan sumber daya alam terbatas dapat senantiasa ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat sebesar-besarnya”. Dalam pasal 11 juga menyatakan bahwa “Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kemanfaatan dan perlindungan untuk kepentingan publik”. Apalagi, dalam SPS Pasal 13 ayat 2 menyatakan bahwa “Program siaran tentang permasalahan kehidupan pribadi tidak boleh menjadi materi yang ditampilkan dan/atau disajikan dalam seluruh isi mata acara, kecuali demi kepentingan publik”.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun tidak tinggal diam. Mereka akhirnya menjatuhkan sanksi administrasi berupa teguran tertulis terhadap tayangan 'Janji Suci Raffi dan Nagita' yang ditayangkan TRANS TV. Dalam surat teguran bernomor 2415/K/KPI/10/14 tersebut, KPI menilai bahwa tayangan yang ditayangkan dua hari berturut-turut tersebut bukan untuk kepentingan publik. Program ini disiarkan dalam durasi waktu siar tidak wajar serta tidak memberikan manfaat kepada publik sebagai pemilik utuh frekuensi. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas perlindungan kepentingan publik. Berdasarkan telaah KPI, tayangan tersebut melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran KPI tahun 2012 Pasal 11 ayat (1) serta Standar  Program Siaran KPI tahun 2012 pasal 12 ayat (2). TRANS TV dilarang menyiarkan ulang program ini dan program yang serupa di masa depan.

Akan tetapi, bukan cuma sekali ini saja dimana tayangan mengenai pernikahan mewah menuai kontroversi. Mungkin di tahun 2014 ini, pernikahan Raffi dan Nagita terbilang mewah, tetapi di tahun-tahun sebelumnya terdapat pernikahan pasangan artis yang juga sangat mewah. Misalnya pada 20 Mei 2012 lalu, RCTI meluncurkan tayangan bertajuk 'Jodohku', dengan menayangkan resepsi pernikahan Anang Hermansyah dengan Ashanty selama tiga jam penuh. Pernikahan itu bahkan digosipkan bahwa pada acara ngunduh mantu di Jember, daerah kelahiran Ashanty, mereka menggunakan APBD Jember senilai Rp6,5 miliar, meskipun gosip tersebut nyatanya hingga kini tidak terbukti. Sedangkan di luar negeri, banyak orang-orang yang melangsungkan pernikahan mewah yang menyita banyak perhatian publik dan juga disiarkan secara live. Misalnya pernikahan Kate Middleton dan Pangeran William. Pernikahan pasangan ini disiarkan secara live di sejumlah media sosial. Akan tetapi, wajar bila pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton dipublikasikan secara besar-besaran karena mereka adalah calon pewaris tahta Inggris.

Upacara pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, meski keduanya beragama Islam yang menuntut kesederhanaan, membuktikan bahwa upacara pernikahan nyatanya tidak sebatas soal agama. Akan tetapi di dalamnya juga ada banyak ragam dan variasi tradisi suku bangsa, budaya, maupun kelas sosial.

Tuesday, May 17, 2016

Pengaruh Gambar Seram di Bungkus Rokok

Ada sebuah gangguan kecil yang disisipkan dalam keseharian perokok di Indonesia. Belakangan ini, pemerintah mengharuskan setiap bungkus rokok menampilkan gambar berisi dampak bahaya merokok. Pertanyaannya adalah, sejauh manakah gangguan ini efektif? Disini, saya akan mencoba mengupasnya dengan survei kecil berbasis teori disonansi kognitif.

Analisis Film Kejarlah Daku Kau Kutangkap

Kejarlah Daku Kau Kutangkap adalah sebuah judul film bergenre drama komedi keluarga yang rilis pada tahun 1986. Bercerita tentang konflik di dalam pernikahan Ramona (diperankan oleh Lidya Kandow) dan Ramadhan (Deddy Mizwar), yang semakin dipanaskan pula oleh tokoh pendukung yakni Marni (Ulli Artha), sebagai sahabat Ramona dan Markum (Ikranagara) sebagai paman Ramadhan. Naskah dengan dialog-dialog segar ditulis secara apik oleh Asrul Sani dan dikemas dengan pas oleh arahan Chaerul Umam sehingga menghasilkan sebuah film komedi romantis yang benar-benar bercita rasa Indonesia dan menjadi sebuah karya masterpiece pada jamannya. 

Premis
Pada dasarnya, film ini memiliki premis yang klise dan sangat sederhana, yakni kedua orang yang jatuh cinta akan tetapi gengsi. Akan tetapi sutradara dan penulis naskah sangat cerdas mengemas plot yang sederhana itu ke dalam sebuah cerita yang menarik. Hingga film ini berhasil memenangkan Piala Citra untuk kategori Skenario dan Film Komedi.

Sunday, May 15, 2016

Recipe: Camera Position in Short Film

In film making, shot compositions, sizes, and angles enhance how you tell your story. So it's better if you understand it deeper, regardless of your specifications. Director who have thorough knowledge on photography had upper hand in the film industry. Because short film usually requires people to be multi-tasker. So let’s begin the course.

The next one is camera position. In filmmaking, each cinematographer and director may has a slightly different definition of camera position, but the definitions are similar enough to warrant the following list of traditional division, which is Frontal View, Three-quarter View, Side View, and Back View. Camera position was based on 180 degree where the camera was placed around the actors. You can position the camera in different places around the subject as well.

Recipe: Angle in Short Film Shots

In film making, shot compositions, sizes, and angles enhance how you tell your story. So it's better if you understand it deeper, regardless of your specifications. Director who have thorough knowledge on photography had upper hand in the film industry. Because short film usually requires people to be multi-tasker. So let’s begin the course.

The first one is angle. In filmmaking, each cinematographer and director may has a slightly different definition of framing, but the definitions are similar enough to warrant the following list of traditional division, which is Low Angle, High Angle, Bird-eye View, and Worm-eye View.

Saturday, April 30, 2016

Cracking Hidden Messages in PAPER TOWNS

PAPER TOWNS (2015) is a coming-of-age film directed by Jack Schreier. This film was centered on the life of Quentin (Nat Wolff) and his enigmatic neighbor Margo (Cara Delevigne), who loved mysteries so much that she became one. After taking Quentin on an all-night adventure through their hometown, Margo suddenly disappears.


Only leaving behind cryptic clues for Quentin to decipher. PAPER TOWNS was adapted from the bestselling novel by author John Green (The Fault in Our Stars). Surprisingly, it gathered low score in any critic sites. One answer i can think of? because they failed to crack the hidden message on PAPER TOWNS, while Jack Schreier is somewhat a Margo in real life.

Wednesday, April 20, 2016

The Virtue of Art Director in Filmmaking

I've met so many people who proudly stated that they are a director, editor, scriptwriter and director of photography. But when it comes to art directing, they tend to consider it as uninteresting. They're stupid. Main reasons? Art director is a highly skilled work. 

Art Director is a superman disguised as Clark Kent. 

Art directors literally have to worked their ass off since day 0. During pre-production, they have to manage almost anything. From arranging the art department budget and schedule of work, up to identifying and preparing sets, all props, and any special items that the script may needed. They have to commissioning all special effects (such as explosions or car crash sequences), hiring all vehicles (from cars to horse drawn carriages), organizing the casting of all animals (chosen by the director), and observing the construction process of the props needed. 

During the production day 1, Art Directors had to present on set to oversee the construction, dressing and striking (dismantling) of the remaining sets. And even after the film wraps and the shooting is completed, Art Directors have to ensure that all sets are struck and locations cleared, and that all outstanding art department bills are paid.

Art is the biggest department on any film, and Art Director is their spearhead. Sadly, sometimes they are underappreciated. The audience tends to value highly the film directors and sometimes, director of photography. So little credit was given to the Art Director. Thus, only humble and highly committed person are allowed to walked on this path. Me? I'm half-assed person and a stage hogger, so i think i'll pass. 

Anyway, Let's just appreciate the ultimately tough jobs of Art Director. Here are several shorts that i think are perfectly displayed the splendid power of an Art Director:



So, what do you think?

References:
Media Match USA 

Tuesday, April 19, 2016

Looking For Cash to Fund Your Film Production? Try Crowdfunding

You might be familiar with crowdfunding platform. It is a platform such as Kickstarter and Indiegogo, that enable millions of people to fund a concept proposed by another user. Some thriving, some failing. But nowadays, those crowdfunding platform often get associated to startup, crazy idea in tech, gadget and engineering. But the virtue of crowdfunding should not be limited to those. Then what else?

Party
A moron (or perhaps a genius) named Zack Danger Brown started an uproar when his crowdfunding project: a party which involved with the creation of an ultimate potato salad recipes, skyrocketing in Kickstarter. Total 6,911 backers pledged $55,492 to help bring this project to life. He's mayhaps starting a potato salad as a joke (only god knows) but he certainly ended it in large amount of sums. For a potato. 

Zack Danger Brown by New York Daily News

With his new crowdsourced fortune, Zack says he will create potato salad merchandise, a potato salad recipe book and even host a potato salad party during the Labor Day weekend where “the whole Internet is invited”.

Thursday, April 14, 2016

Boiling Idea for a Solid Short Film

Well, it's my second year acts as senior in my campus indie filmmaker community. It's not much actually, since there are thousand of filmmaker who really pour their heart, soul, and blood to filmmaking. And i'm kind of a half assed person. So, i'll write tips for another half-assed filmmaker. Here's the technique i really use to boil the ideas for a solid short film:

Personal  experience.
Do you ever feel like a plastic bag? Awesome. Pour your experience into a solid short film script. Dig into your past. What in your life that you hated the most, and you sure as hell wanting to change them. With fiery passion to the second chance, as half assed as you might be, you'll manage to finish the production and get the shits done. Because, it's really personal to you. It's your story. 

Is it interesting?
Yes your life suck. But is it worth it to waste other people time just to watch your short film? Because ultimately, you should know that your short films are supposed to be watched by other real people in the end of the day. So, before you jump to 'lets produce this film', ask yourself: are your story interesting? It is, if only it's relatable to other people. Your story only valuable if thousands or millions of people are experience the same pain as yours.

Be as local as possible.
You might think that disease and hunger in Africa is a damn good short film material. And it is. But remember, you're half assed. You won't find the budget to produce the scene or even flight to Africa to shoot the film. So let's be real: be as local as possible. Address the issue that only happening in your town, neighborhood, or family if possible. Or perhaps if you really want to address the issue in Africa, you can minimize it to semiotics and symbolism. My role model director is Abbas Kiarostami. And his "Two Solutions for One Problem" is impactful to my directing style. Since it talked of the global issue: war, potrayed by (might be Iran) children. He really do local to the big issue.



Keep it simple and stupid.
Consider your audience a troll. With their concept of intelligence, should they understand what you'll be talking in your film? I meet with so many indie filmmaker that overestimated their audience by providing the mindfucking oh-so-intelligent storyline. Let's face it: audience time are too valuable for your film. They have chores, homework, their own share of domestic problems. So tell me, why should they waste their time and their already exhausted brain power to watch your film? And this was the sole reason i could think of why the Korean Drama soaring up high. Because they treat their audience right.

You need reference.
Watch as much as short film. There's no merit in spending time to expand your reference. Maybe you'll find the role moder director that suited to your comfortable style. Being a good consumer of art makes you a better artist. And film is arguably an art form.

And here's the half-assed film i produced by using all of those concept in mind. It's  private though, so you won't find it in regular Youtube search. Because of reasons.